Alhamdulillah.....Artikel yang berjudul "Alhambra, Jejak Islam di Spanyol" akhirnya dimuat di Pikiran Rakyat edisi Minggu, 3 Agustus 2014. Ini adalah artikel kedua di media massa loh. Sebenarnya artikel ini sudah lama sekali saya kirim untuk rubrik Backpacker di harian tersebut, tetapi lama tak ada kabar dan tak kunjung dimuat. Sampai-sampai saya agak rombak lagi artikelnya, menghilangkan subyek "saya" biar gak terkesan pribai banget, terus saya kirim ke koran lain :p. Eh kemarin iseng-iseng ngecek ada artikel saya dimuat di Pikiran Rakyat, tetapi saya kurang jelas dia sebenarnya masuk rubrik yang mana. Haha. Yaudah lah ya yang penting dimuat dan dapat honor lagi :p. Ini screenshot artikel saya yang saya dapat dari e-papernya:
Karena tulisannya gak kebaca, bagi yang penasaran dengan isi artikelnya, saya tulis kembali disini yah. Tetapi ini versi yang sudah agak saya rombak itu yang pakai sudut pandang orang ketiga. Habisnya yang asli kaya yang dimuat ini file nya udah ilang. hehe. Selamat membaca anyway!
Alhambra, Jejak Kejayaan Islam di Spanyol
Granada terletak di
Andalusia, Spanyol Selatan. Kota cantik di
kaki pegunungan Siera Nevada ini terkenal dengan Alhambra, istana megah warisan
peradaban Islam yang selama tujuh abad (711-1492) berjaya di Spanyol.
Sejarah
yang Melegenda
Nilai historis Alhambra berkaitan dengan kemajuan kerajaan
Islam Granada di seluruh Spanyol. Ya, pemerintahan Islam di Spanyol pernah terbagi ke
dalam beberapa negara kecil, termasuk Granada. Kemudian antara tahun 1000-an hingga 1200-an, penguasa
Kristen Spanyol mulai menaklukan satu persatu kota-kota
pemerintahan Islam, termasuk dua kota penting Cordoba dan Sevilla. Granada
berhasil terhindar, dan akhirnya menjadi
satu-satunya kerajaan Islam yang tersisa dan masih bertahan di Spanyol.
Adalah Muhammad Al-Ahmar
(Muhammad I) yang kemudian mendirikan
Dinasti Nasrid dan memerintah Emirat Granada.
Peradaban Islam yang maju di Spanyol mulai dibangun lagi di kota ini.
Yang paling fenomenal tentu saja,
pembangunan Alhambra sebagai istana kerajaan sekaligus simbol kekuatan
dan kejayaan Emirat Granada. Alhambra
terus dibangun dan disempurnakan selama beberapa periode kepemimpinan hingga
istana ini menjadi benar-benar menakjubkan.
Selama 250 tahun Emirat
Granada berhasil mempertahankan eksistensinya di Bumi Spanyol. Namun kemudian ,
takdir berkata lain. Kekisruhan dan pergolakan politik yang terjadi di dalam
kerajaan berhasil dimanfaatkan oleh pihak Kristen Spanyol untuk melemahkan dan
mengambil alih Granada. Akhirnya, Granada, benteng terakhir kekuasaan Islam di
Spanyol runtuh pada tahun 1492. Istana Alhambra yang megah menjadi saksi
penyerahan kekuasaan kepada pihak yang menang.
Saat
ini, Alhambra masih berdiri megah, sama seperti dulu di atas bukit Al-Sabika,
Granada. Semenjak Kristen berkuasa kembali di Spanyol, beberapa modifikasi dan
pendirian bangunan baru memang dilakukan di dalam Alhambra. Namun hal tersebut
sama sekali tidak mengurangi nuansa islamis yang kental di istana yang sekarang
menjadi ikon pariwisata Granada. Kemegahan dan nilai historis yang dimiliki
Alhambra berhasil menarik turis dari seluruh dunia untuk datang ke Granada dan
mengagumi istana ini.
Istana “Merah”
yang Mempesona
Menuju
Alhambra, para wisatawan dapat berjalan kaki naik ke atas bukit. Sesampainya di pintu masuk, wisatawan harus membeli tiket seharga 14€
per orang. Nah, begitu masuk ke dalam kompleks, pemandangan cantik menyambut di
depan mata. Tidak hanya istananya yang menawan, lanskap kota Granada dari atas
bukit pun begitu mempesona.
Alhambra berarti “merah”, mengacu
pada dinding-dindingnya yang berwarna coklat kemerahan. Warna inilah yang
membuat Alhambra menjadi sangat cantik jika ditimpa sinar matahari yang terik. Alhambra
terdiri dari beberapa bangunan dan kebun. Alcazaba, adalah sebuah benteng tua
yang diyakini kontruksinya sudah ada sejak abad ke-9. Bangunan ini berfungsi
sebagai benteng militer. Lalu ada Generalife, sebuah kebun yang berfungsi
sebagai tempat rekreasi bagi keluarga raja. Kemudian The Palace of Carlos V, bangunan baru
yang dibangun oleh penguasa Kristen. Yang paling menawan, tentu saja The
Nasride Palace, atau istana kerajaan yang merupakan bangunan inti dari
Alhambra.
The Nasride Palace terdiri
dari beberapa bagian yang salah satunya bernama The Palace of the Lions.
Melihat namanya yang terkesan sangar, tak disangka jika bagian ini merupakan tempat khusus bagi para Harem, istri-istri Sultan. The Nasride
Palace adalah pusat keindahan Alhambra. Bangunan seluruhnya dipenuhi dengan berbagai
ornamen dan elemen dekorasi. Dinding-dinding dipernuhi oleh keramik-keramik
yang sangat cantik. Banyak pula penggunaan mocarabe,
semacam ornamen berbentuk stalaktit yang menjadi ciri arstitektur Islam
pada abad ke-12. Kemudian yang paling impresif adalah banyaknya kaligrafi Arab
yang menghiasi dinding-dinding di istana ini. Kaligrafi yang digunakan adalah
kaligrafi klasik terutama tulisan kursif dan kufik. Ingin tahu apa yang banyak
tertulis di kaligrafi tersebut? La
ghaliba illa Allah (‘’Only Allah is Victorious’’). Sangat mengesankan.
Para wisatawan yang
mengunjungi Alhambra dijamin akan berdecak kagum. Semakin ditelusuri, akan semakin menambah kekaguman dengan arsitektur Nasrid dan seni
Islam. Imajinasi pun terkembang, betapa
majunya peradaban Islam di Spanyol saat itu. Nah, jika ingin sensasi dan nuansa
yang lain, wisatawan pun dapat menikmati istana Alhambra di malam hari yang
konon sangat indah.
Pengunjung Granada datang dari berbagai
kalangan, tidak hanya kaum Muslim saja. Ya, semuanya tentu ingin melihat
langsung bukti dari sejarah yang melegenda. Sebagai UNESCO World Heritage Site,
Alhambra memang menjadi tujuan wajib jika ingin menjelajah Spanyol.
Bagi wisatawan yang ingin
mengunjungi Alhambra, Granada bisa ditempuh menggunakan kereta dari kota-kota
besar seperti Barcelona atau Madrid. Biasanya, Granada dengan Alhambra-nya
menjadi satu paket kunjungan dengan Cordoba. Ya, kedua kota yang menjadi tujuan
wisata sejarah Islam di Spanyol ini
memang berdekatan. Selain dengan kereta, Granada-Cordoba juga dihubungkan
dengan bus. Setelah mengagumi Alhambra, wisatawan juga patut berkeliling kota
Granada. Nuansa kota yang berbeda membuat wisatawan akan menemukan sisi lain
Spanyol. Bagi umat Muslim, jangan khawatir masalah makanan karena di Granada
tersebar berbagai kedai makanan halal dengan harga yang bersahabat. Selamat
berwisata!



Tidak ada komentar:
Posting Komentar