Label

Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serba-serbi. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 September 2014

And, where am I? Beyond Expectation

Postingan kali ini lebih kepada sesi mencurahkan perasaan. Hehe. Sekarang, pagi di Yogyakarta membawa saya kepada nostalgia perjalanan yang telah saya lalui. Berbicara traveling dan jalan-jalan, dari dulu saya selalu berusaha mendapatkan gratisan dan selalu memanfaatkan kesempatan yang ada. Maklumlah, budget saya pas-pas an. Misalnya, berkunjung ke tempat saudara di luar kota yaudah sekalian saja berwisata menelusuri tempat-tempat menarik yang ada disana. Zaman mahasiswa, saya bisa pergi sampai ke kepulauan di perbatasan Indonesia-Timor Leste, berlayar berhari-hari di lautan Indonesia Timur, merasakan pantai dan pulau yang serasa milik pribadi, menelusuri keindahan alam bumi pertiwi yang tidak semua orang tahu, itu semua berkat kegiatan Kuliah Kerja Nyata dari kampus yang saya ikuti. Kebetulan sih, salah satu program kerjanya pengembangan potensi pariwisata. 

Berikutnya, saya alhamdulillah bisa menjelajah Eropa lagi-lagi berkat suatu kesempatan yang baik. Saya diterima untuk suatu program beasiswa di Prancis. Bukan tanpa perjuangan, beasiswa yang sebenarnya pas-pas an untuk hidup itu harus diirit banget agar bisa nabung untuk traveling. Hehe. Bahkan disana pun saya sempat-sempatnya ikut program wisata murah ala mahasiswa yang tentunya sangat murah dan sudah termasuk akomodasi. Hehe

Sedari kecil, saya adalah seorang yang berkeinginan menjelajah dunia, melihat dunia. Buku bacaan saya sewaktu kecil kisah penjelajahan samuderanya Columbus, Magelhaens, hingga penaklukan puncak Everest dan penjelajahan ke dunia es, kutub utara dan selatan. Gimana gak menimbulkan keinginan dan mimpi-mimpi? Saya sih bertekad saya harus keluar negeri dulunya. Padahal gak tahu juga gimana caranya. Hehe. Saya sangat senang membaca peta dunia dan membaca ensiklopedia mengenai tempat-tempat menarik di dunia. Mungkin tempat yang dulunya hanya saya lihat di buku sekarang sudah saya kunjungi.

Ya, bahkan lebih dari itu. Ketika saya menikmati gigitan musim dingin ala Eropa Timur, menelusuri kota seperti Praha dan Budapest yang sangat asing bagi saya dengan nuansa, orang dan bahasanya, berdiri tepat di bawah Menara Eiffel, melihat Samudra Altantik dari Prancis Barat, tersesat di desa-desa Prancis, menikmati simfoni Mozart di tengah romantisnya Vienna, hingga menjejakan kaki di Semenanjung Andalusia, Spanyol, menyaksikan kemegahan seni Islam di masa lampau, dan pengalaman-pengalaman menarik lainnya, saya selalu berkata pada diri saya sendiri, "aku sudah berada sejauh ini". Tak terasa, rumah begitu jauh disana, and where am I?

Bagi sebagian orang, para penjelajah dunia, traveler yang sudah bolak-balik kemana-mana, pengalaman saya hanyalah sebuah catatan kecil. Bagi saya, itu seperti mimpi masa kecil yang menjadi nyata. Sebagian dunia telah terjelajahi.  Seperti hal nya manusia lainnya, saya selalu ingin menambah daftar saya. Menambah pengalaman dan wawasan saya. Melihat keajaiban ciptaan Allah. Entah melalui cara apa nantinya. Semoga suatu kesempatan baik akan datang lagi. Dan selagi tempat dan waktu saya ada disini, mari menjelajah keindahan dan kearifan bumi pertiwi dari Sabang sampai Merauke. Dengan kemampuan yang ada, alhamdulillah kota-kota besar Jawa yang dulunya belum sempat kukunjungi sudah masuk daftar. Mengingat keterbatasan yang ada sekarang, tidak apalah menjelajah dari yang dekat dan ada disekitar dulu. Kadang yang dekat justru yang terlupakan. Bagi saya, traveler sejati itu yang selalu bersyukur, kalau dananya sedang seret yasudah jelajahi yang bisa saja, yang penting tetap jalan-jalan. Hehe. Sambil terus berusaha menyambut kesempatan baik. :)



Sabtu, 17 Mei 2014

Menghemat Makan Saat Traveling di Luar Negeri

Sewaktu saya tinggal di Prancis, saya sering sekali traveling entah keliling Prancis atau ke negara-negara lain di Eropa. Sebagai mahasiswa yang beassiswanya pas-pas an, mau gak mau saya harus ngirit kalau sedang traveling jika tak mau bangkrut pas pulang. Nah, salah satu yang bisa diirit adalah makan. Kali ini, saya ingin menceritakan cara-cara yang  saya lakukan untuk berhemat dalam hal makan ketika traveling di Eropa. Biar ngirit, tetapi masih bisa kenyang, bertenaga, dan gak sampai kelaparan kok. Hehe.

1.  Fastfood setiap hari
Ketika Spain Trip bareng kedua teman, saya selama 3 harian makan KFC untuk makan siang dan malam. Kami ingin makan yang lumayan murah tetapi bisa kenyang. Caranya, kami beli paket ayam bucket yang sudah plus kentang dan minum. Menu seharga 12 Euro ini bisa dinikmati bertiga. Biar ngirit dan karena memang lumayan banyak juga, kami sisakan dan bungkus untuk makan malam. Kadang ditambah dengan membeli chicken fillet seharga 1 euroan saja. Lumayan loh, siang malam kenyang dengan harga yang lumayan murah. Bisa diaplikasikan ke menu-menu fastfood yang lain jika ada. Misalnya di Eropa banyak tuh kedai kebab. Satu menu kebab ini kan lumayan besar juga untuk satu orang, jadinya bisa tuh sepiring berdua. Kebanyakan makan fastfood saat traveling memang harus perbaikan gizi sih pulang-pulang. Hehe


2. Memaksimalkan sarapan sepuasnya di hotel
Saya pernah mengikuti trip ke Eropa Timur dengan travel agent khusus mahasiswa, yang terbilang lumayan murah. Paket trip ini termasuk menginap di hotel dan sarapan gratis di hotel tersebut. Sarapan yang berkonsep prasmanan dan sepuasnya itu tentu saja saya dan beberapa teman saya maksimalkan. Maksudnya dimaksimalkan adalah ketika sarapan kami juga membungkus beberapa telur rebus, roti-roti kecil, mentega, selai dengan tisu yang tersedia. Maksudnya bisa buat makan siang atau ngemil di tengah jalan. Jika Anda memakai paket trip yang seperti ini, bisa dicoba. Tetapi Jangan keterlaluan juga sih bungkusnya, hehe. Seperlunya saja kalau tidak mau diliatin orang :p

3. Beli makanan di supermarket atau minimarket
Ketika traveling, saya seringnya membeli makanan di supermarket atau minimarket yag lebih efektif dan efisien. Lengkap, murah, dan pilihannya beragam. Ada beragam makanan siap makan juga. Sekalian buat seharian atau besoknya. Selain itu, di makanan disini kan semuanya ditulis komposisinya, jadi bisa dicek kehalalannya. Karena seringya traveling bareng teman, saya biasanya membeli yang versi besar seperti roti tawar versi besar  atau air minum dan susu dalam botol besar. Membeli versi besar kalau buat bareng-bareng lebih irit karena harganya tidak jauh beda dengan versi individual. Nah, kalau di penginapan ada dapur atau kalau saya bawa magic com kecil yang bisa dibawa-bawa, biasanya saya masak. Tinggal beli bahan-bahan murah seperti pasta, beras, dan telur. Saya sih jarang banget beli makan dan minum di kafe atau restoran. Mahal. Hehe. Satu roti di kafe bisa dapat sebungkus besar di supermarket. Rasanya, enak kok, beneran. Kadang, di minimarket ada microwave yang bisa digunakan. Jadi, tinggal beli sandwich atau makanan pak-pak an, hangatkan deh di microwave. Bisa dimakan di bangku-bangku pinggir jalan atau taman.Makannya, begitu sampai tempat tujuan traveling saya pasti nyari minimarket terdekat buat ngisi perbekalan. :)

foto: franchisealimentaire.com

Nah, setiap orang pasti punya cara sendiri dalam menghemat saat traveling. Ada teman saya yang memang tidak bisa makan asal-asalan, mesti yang tertata dan terjamin enak. Nah, untungnya saya termasuk yang gak rewel dalam hal makanan jadi bisa diprogram untuk penghematan. 






Jumat, 09 Mei 2014

Ketika Adzan Berkumandang di Cordoba

Suasana malam di sekitar Mezquita Cathedral, Cordoba

Ini adalah cerita yang saya alami sendiri sewaktu Spain Trip musim panas 2013 lalu. Cordoba, memang menjadi tujuan saya. Nilai historisnya sebagai pusat peradaban Islam di Spanyol menarik perhatian saya dan kedua teman saya untuk mengunjunginya sendiri. Ikon Cordoba, Mezquita Cathedrale dulunya adalah Masjid Besar Cordoba sewaktu Islam berkuasa di Spanyol. Namun , sekarang sudah menjadi Katedral. 

Nah, malam-malam, ceritanya sepulang dari Granada, kami kelaparan.  Kami bertiga keliling-keliling sekitaran Mezquita sambil nyari makan. Namun karena memang sudah malam, sudah jarang tempat makan yang masih buka. Untungnya ada semacam kafe yang masih jual makanan. Kami pun kemudian makan ngemper di samping Mezquita. Sambil makan, sebenarnya saya agak membayangkan kalau zaman dulu, sewaktu Mezquita masih merupakan masjid, pastilah malam-malam begini ramai orang shalat Isya berjamaah, dzikir, tadarus Al-Qur'an, dan lain-lain. Tidak seperti malam itu, sepi. Nah ketika sedang asyik makan malam seadanya itu, tiba-tiba teman saya nyeletuk.

"Eh ada suara adzan. Lu denger gak?"

"Bukan kali. Masa iya ada?" (sebenarnya saya juga agak merasa dengar sayup-sayup gitu sih)

"Eh bentar. Eh iya beneran ada. Bukan halusinasi."

Ternyata setelah didengarkan memang ada adzan. Adzan Isya. Suaranya tidak jelas banget sih, tetapi terdengar. Sontak, teman saya langsung meninggalkan makanannya, keliling-keliling nyari asal suara adzan. Kayanya gak mungkin dari Mezquita deh. Kemudian dia langsung bertanya kepada mas-mas penjaga bar yang ada di deket Mezquita. Mas-mas bar gak tahu dari mana. Haha. Lucu juga dia bertanya kepada mas-mas bar. Kemudian ada seorang bapak yang memberi tahu kami bahwa adzan tersebut berasal dari Islamic Center yang ada tidak terlalu jauh dari Mezquita. Owalaaaah. Mereka pun memperhatikan tingkah kami yang tiba-tiba heboh sendiri dengar suara adzan. Ya iyalah, selama tinggal di Eropa baru kali ini kami dengar adzan yang emang lumayan agak jelas. Terharu loh.

Rindu pun kembali muncul saat itu. 

Mana Reservasinya? (Tragedi Eurail). Hiks..

Petugas pengecekan di dalam kereta adalah sosok yang diperlukan untuk memastikan semua penumpang memiliki tiket yang benar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sosok ini menjadi "horor" bagi mereka yang memang tidak mematuhi peraturan.

Saya adalah orang yang taat peraturan dan selalu memastikan semua yang saya lakukan sesuai, apalagi kalau akan naik kereta api. Tak pernah ada dalam bayangan saya akan berurusan dengan petugas kereta api apalagi di luar negeri. Ribet pastinya. Namun bayangan saya menjadi penumpang yang baik luntur ketika saya dan dua orang teman saya melakukan Spain Trip dengan kereta api. Begini ceritanya.

Saya dan dua orang teman saya adalah tiga mahasiswa Indonesia di Prancis yang ingin backpacking dengan budget seadanya menjelajah Spanyol. Untuk alasan efisiensi dan kemudahan, kami putuskan membeli Eurail Pass France-Spain. Bayar satu tiket diawal. Hanya dengan satu pass ini, kita tidak usah lagi membeli tiket kereta. Tinggal naik saja. Namun Eurail Pass ini tentunya mempunyai syarat dan ketentuan yang tertulis rapi di belakang pass kami. Ya, memang tidak usah bayar lagi tinggal naik, tetapi itu untuk kereta lokal, bukan high speed train. Untuk high speed train, harus reservasi dan ada biaya yang besarnya tergantung kebijakan perkeretaapian setiap negara. Inilah yang tidak kami perhatikan dan baca. Agaknya memang sudah ditakdirkan. Huhu. 

Dari Paris, enak-enak saja kami naik high speed train Prancis, TGV menuju Toulouse (Prancis Selatan) Ya, saya memilih jalur melalui kota ini dulu karena saya ada urusan ngasih titipan ke teman di stasiun. Padahal saat itu kereta sudah penuh. Kami berpikir, ah, gak papa naik dulu, kan kita udah punya tiket ini. Duduk aja dulu di deket pintu. Duh, pemikiran dari mana ini?? Kami pun duduk-duduk manis di bangku kecil dekat tempat menaruh tas dan pintu. Persis banget kaya di Indonesia ini, penumpang yang gak punya tiket. Kemudian, petugas pengecekan datang, dengan seragam khasnya, alat pengecekan, dan alat semacam kalkulator. Jeng..jeng. Dia menanyakan tiket kami. Kami menunjukkan Eurail Pass. Dia bertanya dimana bukti reservasinya. Kami bertanya memangya harus reservasi. Dia membalik Eurail Pass kami dan menunjukan satu kalimat yang membuat kami cengok. Mungkin dia berkata dalam hati, kalian ceroboh sekali tidak membaca ini.  Lalu dengan kalkulatornya, dia menghitung besarnya biaya yang harus kami bayar karena melakukan reservasi di dalam kereta, bukan di loket. Berapa puluh Euro melayang sudah....

Kami harus berganti kereta dengan jenis Intercité. Wah, pasti ini bukan high speed train. Langsung masuk saja. Seperti biasa, dia datang dengan seragam khasnya dan seperangkat alat pengecekan. Gayanya sok asik, berjalan girang, dan menyapa penumpang satu per satu. Tapi kok bagi kami auranya gak enak yah. Makin dekat, auranya makin gak enak. Sudah jelas gak enak ketika dia bilang, ah, mana reservasinya? Cengok untuk kedua kali. Kami minta penjelasan. Dia, dengan gaya cerianya mau menjelaskan kami tentang ketentuan Eurail. Kemudian setelah menerima puluhan Euro dari kami bertiga, masih dengan gaya girangnya, bahkan lebih girang lagi berkata "Selamat malam mingguan di Barcelona yah!". Hiks, dia tidak tahu akan makan apa kami disana. 

Selesai urusan di Toulouse yang sebenarnya berlangsung di peron dan cuma beberapa menit, saya naik kereta lagi kali ini untuk menuju wilayah perbatasan. Kali ini, high speed train TGV sebelum nanti berganti naik kereta Spanyol. Berkaca pada pengalaman dan tidak mau kehilangan Euro lagi, kami bertekad sebelum naik kami reservasi dulu di loket. Namun sungguh takdir tak mendukung. Loket penuh, kereta berangkat sebentar lagi. Kami disuruh naik secepatnya. Kali ini sudah pasrah. Pasrah banget. 

Kereta berjalan melewati tepi laut Mediterania. Indah sekali. Tetapi tiba-tiba jadi buram ketika dia datang. Dengan seragam khasnya dan seperangkat alat pengecekan. Kali ini kami tidak cengok. Kami siap dieksekusi. Kami pasrah, mengeluarkan dompet dan langsung memberinya puluhan Euro lagi........

Saking eneknya berurusan sama petugas pengecekan, kami bertiga tidak mau menghitung berapa biaya yang telah kami keluarkan untuk membayar denda. Terserah saja, bukan rejekinya. Memang salah kami juga.  Hehe. Usut punya usut, ternyata biaya reservasi untuk high speed train Prancis memang terkenal mahal, apalagi kalau onboard. Panteslah kami bangkrut. Untunglah di Spanyol tidak mahal, hanya 10 Euro saja.

Bagi yang ingin memakai Eurail, perhatikan benar masalah reservasi ini yah kalau tidak mau berurusan sama petugas pengecekan. Hehe. Ada kok beberapa negara yang tidak memberlakukan reservasi kalau tidak salah. Namun ada bisa menyiasati dengan menaiki kereta lokal supaya benar-benar gratis, meski durasi lebih lama.  Tetapi enak-enak saja kok bagi saya yang akhirnya pulang ke Prancis dengan kereta lokal dari Spanyol karena sudah tidak punya uang lagi. Haha




Indonesia yah?? :)

Ehem, kali ini saya tidak bercerita mengenai tempat-tempat seru yang saya kunjungi. Namun cerita saya kali ini juga seru dan sedikit gokil. Hehe. Suatu kejadian yang sering kali saya (dan mungkin traveler Indonesia lain) alami ketika sedang jalan-jalan ke luar negeri. Kejadian yang dimaksud adalah ketika tiba-tiba di suatu tempat di luar negeri kita berpapasan atau bertemu dengan sesama orang Indonesia pula. 

Sebenarnya tidak ada yang aneh dan biasa aja bertemu dengan sesama orang Indonesia ketika sedang traveling di luar negeri. Biasa ajaaa. Tapi yang unik itu adalah proses ketika momen itu terjadi dan berjalan yang gimana yaaah. Haha. Biar saya gak susah menjelaskan, saya berikan ilustrasi dari pengalaman saya sendiri.

Suatu sore di tengah kota Budapest
"Saya dan teman saya sedang berjalan kaki pulang dari Maket Hall menuju hotel. Di perjalanan, terlihat dua orang wanita muda berusia kira-kira sama seperi saya. Mereka berjalan berlawanan arah dengan kami. Sebenarnya sejak dari kejauhan, mereka sudah agak bisik-bisik sambil sesekali memperhatikan kami. Saya pun sebenarnya sudah punya pikiran sendiri, tetapi takut salah juga. Makin dekat, makin terjadi kontak mata. Tiba-tiba ketika sudah benar-benar dekat, salah seorang diantara mereka menyapa dengan senyum ceria meski agak sedikit ragu-ragu : Maaf, Indonesia yah? . Saya pun menjawab: Iya, Indonesia juga kan? 
Setelah itu, kemudian terjadi percakapan dari kenalan, basa-basi, dan lain-lain.

Nah, ngerti kan maksud saya? Hehe. Apalagi di tempat-tempat traveling yang gak terlalu tenar banget. Seperti di Angers,  kota tempat tinggal saya di Prancis dulu, dimana jarang nemu orang Indonesia. Pasti deh kalo lagi jalan tiba-tiba melihat sesosok muka-muka Melayu dengan gaya yang kira-kira orang Indonesia lah, langsung deh saling sapa tanpa basa ragu-ragu lagi. Gak pakai pemanasan langsung samber, "Indonesia yah?". Sampai-sampai dulu saya dan teman-teman menjadikan "Indonesia yah?" semacam jargon.

Entahlah, mungkin memang jiwa kesatuan kita sebagai satu Bangsa Indonesia memang kuat. Tak usahlah bertegur sapa, minimal senyum atau kontak mata pasti sering kita lakukan kan? Hehe. Saya sendiri sih senang bisa bertemu sesama orang Indonesia kalau lagi jalan-jalan di luar negeri. Seru juga merasakan sensasi bertanya-tanya sendiri, ragu, tapi akhirnya menyapa juga. Seringnya, pihak yang lain juga merasakan hal yang sama seperti kita.  Meski kita tidak saling kenal sebelumnya, tetapi pas ngrobrol nyambung aja. Dan dari sini sih saya mendapat wawasan lah sedikit-sedikit. Kan nambah kenalan jugaaa. Awkward moment yang jadi happy ending lah yaaah..:)

Sabtu, 19 April 2014

O'Jack Taxi Motor, Solusi Praktis Menjelajah Jogja

Ingin menjelajah Jogja secara praktis,mudah,  murah, dan efisien? Panggil saja O'Jack Taxi Motor!


Hai! Postingan kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya di Yogyakarta. Jadi bulan lalu, saya ada pelatihan selama sebulan di Kota Gudeg. Nah, berhubung saya selama sebulan selalu pindah-pindah tempat tinggal (maklum numpang :p), saya tidak selalu bisa mempergunakan moda transportasi umum seperti Trans Jogja atau yang lain untuk pulang pergi ke tempat pelatihan. Selain itu, rute Trans Jogja yang berputar-putar terkadang makan waktu juga. Kalau sudah begini kan yang paling praktis tinggal panggil abang-abang ojek. Hehe. Eits, tapi tunggu dulu, pendatang seperti saya terkadang tidak tahu tarif tukang ojek yang berlaku untuk suatu rute tertentu. Terkadang juga untuk mendapatkan harga yang pas, kita harus tawar-menawar alot dengan tukang ojek. Kalau lagi kepepet, terpaksa kita yang ngalah dan jadi mahal deh. Huhu. 

Nah, salah seorang teman memberi tahu saya bahwa di Jogja ada yang namanya ojek taxi motor. Wuih apaan tuh? Moda transportasi ini adalah ojek biasa tetapi menggunakan argo seperti taxi. So, ongkos yang harus kita bayar bila menggunakan ojek jenis ini berdasarkan argo yang ada.  Jadi, tidak ada tuh yang namanya tawar-menawar dan penipuan harga. Hehe. Yang paling terkenal dan menjadi pelopor tentu saja O'Jack Taxi Motor. 

O'Jack Taxi Motor memang yang pertama dan terbaik untuk taxi motor. Penasaran, saya mencoba menghubungi Call Center nya untuk memesan ojek dari Stasiun Lempuyangan menuju tempat pelatihan saya. Untuk memesan, kita bisa telpon langsung, sms, bahkan whatsapp atau BBM ke kantor O'Jack Taxi Motor. Nantinya, kantor akan menghubungi tukang ojek yang bersedia menjemput kita. Tak berapa lama kemudian, saya mendapat balasan 'ok'. Asik!

Nah, pas jam janjian saya dengan O'Jack Taxi Motor, ada SMS masuk ke saya bunyinya "Mbak, saya sudah di stasiun Lempuyangan". Ternyata itu dari tukang ojek yang disiapkan menjemput saya. Jangan khawatir tidak mengenali pengendara O'Jack Taxi Motor karena mereka berseragam khsusus serba kuning dengan motor dan helm kuning pula! Sampai di tempat pelatihan, ternyata ongkos yang harus saya bayar sekitar 6 ribu sekian! Jauh lebih murah dari tawaran tukang ojek biasa yang sebesar 15 rb. Ternyata, O'Jack Taxi Motor memberlakukan tarif sebesar Rp 2/meter. Kita pun diberi print argo dan harga yang harus kita bayar. Waaaah. 

Karena murah dan mudah inilah akhirnya saya jadi langganan O'Jack Taxi Motor selama sebulan di Jogja. Hehe. Untuk lebih mudah berkomunikasi dan hemat waktu, kita bisa langsung sms pengendara ojeknya loh. Minta saja nomornya untuk lebih mudah janjian sehinga tak terlalu lama menunggu. Katanya sih, kalaupun dia sedang tidak bisa menjemput, dia akan menghubungi pengendara lain yang kiranya bisa. 

Bagi yang tidak mau dengan pengendara ojek pria, O'Jack Taxi Motor menyediakan pula pengendara wanita loh! Waaaaah. Kabar gembira juga bagi saya. Saya pun kemudian beralih ke pengendara wanita dan menjadi langganannya. Hehe. 

O'Jack Taxi Motor bisa menjemput dimana saja dan mengantar kemana saja di Kota Jogja loh. Tinggal bilang saja lokasi kita dimana.  So, bersiaplah jelajahi semua tempat di Jogja ya karena ada yang siap anatr-jemput nih! See ya!

Kontak O'Jack Taxi Motor:

Telp/SMS : 083844070707 

Tarif: Rp 2/meter atau Rp 2.000/kilometer

sumber gambar: yogyatrip.com