Label

Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Agustus 2014

Artikel Alhambra di Harian Pikiran Rakyat

Alhamdulillah.....Artikel yang berjudul "Alhambra, Jejak Islam di Spanyol" akhirnya dimuat di Pikiran Rakyat edisi Minggu, 3 Agustus 2014. Ini adalah artikel kedua di media massa loh. Sebenarnya artikel ini sudah lama sekali saya kirim untuk rubrik Backpacker di harian tersebut, tetapi lama tak ada kabar dan tak kunjung dimuat. Sampai-sampai saya agak rombak lagi artikelnya, menghilangkan subyek "saya" biar gak terkesan pribai banget, terus saya kirim ke koran lain :p. Eh kemarin iseng-iseng ngecek ada artikel saya dimuat di Pikiran Rakyat, tetapi saya kurang jelas dia sebenarnya masuk rubrik yang mana. Haha. Yaudah lah ya yang penting dimuat dan dapat honor lagi :p. Ini screenshot artikel saya yang saya dapat dari e-papernya:




Karena tulisannya gak kebaca, bagi yang penasaran dengan isi artikelnya, saya tulis kembali disini yah. Tetapi  ini versi yang sudah agak saya rombak itu yang pakai sudut pandang orang ketiga. Habisnya yang asli kaya yang dimuat ini file nya udah ilang. hehe. Selamat membaca anyway!

Alhambra, Jejak Kejayaan Islam di Spanyol

Granada terletak di Andalusia, Spanyol Selatan. Kota cantik  di kaki pegunungan Siera Nevada ini terkenal dengan Alhambra, istana megah warisan peradaban Islam yang selama tujuh abad (711-1492) berjaya di Spanyol.

Sejarah yang Melegenda
Nilai historis   Alhambra berkaitan dengan kemajuan kerajaan Islam Granada di seluruh Spanyol.  Ya,  pemerintahan Islam di Spanyol pernah terbagi ke dalam beberapa negara kecil, termasuk Granada.  Kemudian antara tahun 1000-an hingga 1200-an, penguasa Kristen Spanyol mulai menaklukan satu persatu  kota-kota  pemerintahan Islam, termasuk dua kota penting Cordoba dan Sevilla. Granada  berhasil terhindar, dan akhirnya menjadi satu-satunya kerajaan Islam yang tersisa dan masih  bertahan di Spanyol.

Adalah Muhammad Al-Ahmar (Muhammad I)  yang kemudian mendirikan Dinasti Nasrid dan memerintah Emirat Granada.  Peradaban Islam yang maju di Spanyol mulai dibangun lagi di kota ini. Yang paling fenomenal tentu saja,  pembangunan Alhambra sebagai istana kerajaan sekaligus simbol kekuatan dan kejayaan Emirat Granada.  Alhambra terus dibangun dan disempurnakan selama beberapa periode kepemimpinan hingga istana ini menjadi benar-benar menakjubkan.

Selama 250 tahun Emirat Granada berhasil mempertahankan eksistensinya di Bumi Spanyol. Namun kemudian , takdir berkata lain. Kekisruhan dan pergolakan politik yang terjadi di dalam kerajaan berhasil dimanfaatkan oleh pihak Kristen Spanyol untuk melemahkan dan mengambil alih Granada. Akhirnya, Granada, benteng terakhir kekuasaan Islam di Spanyol runtuh pada tahun 1492. Istana Alhambra yang megah menjadi saksi penyerahan kekuasaan kepada pihak yang menang.  

Saat ini, Alhambra masih berdiri megah, sama seperti dulu di atas bukit Al-Sabika, Granada. Semenjak Kristen berkuasa kembali di Spanyol, beberapa modifikasi dan pendirian bangunan baru memang dilakukan di dalam Alhambra. Namun hal tersebut sama sekali tidak mengurangi nuansa islamis yang kental di istana yang sekarang menjadi ikon pariwisata Granada. Kemegahan dan nilai historis yang dimiliki Alhambra berhasil menarik turis dari seluruh dunia untuk datang ke Granada dan mengagumi istana ini.

Istana “Merah” yang Mempesona
Menuju Alhambra, para wisatawan dapat berjalan kaki naik ke atas bukit.  Sesampainya di pintu masuk, wisatawan harus membeli tiket seharga 14€ per orang. Nah, begitu masuk ke dalam kompleks, pemandangan cantik menyambut di depan mata. Tidak hanya istananya yang menawan, lanskap kota Granada dari atas bukit pun begitu mempesona.

Alhambra berarti “merah”, mengacu pada dinding-dindingnya yang berwarna coklat kemerahan. Warna inilah yang membuat Alhambra menjadi sangat cantik jika ditimpa sinar matahari yang terik. Alhambra terdiri dari beberapa bangunan dan kebun. Alcazaba, adalah sebuah benteng tua yang diyakini kontruksinya sudah ada sejak abad ke-9. Bangunan ini berfungsi sebagai benteng militer. Lalu ada Generalife, sebuah kebun yang berfungsi sebagai tempat rekreasi bagi keluarga raja.  Kemudian The Palace of Carlos V, bangunan baru yang dibangun oleh penguasa Kristen. Yang paling menawan, tentu saja The Nasride Palace, atau istana kerajaan yang merupakan bangunan inti dari Alhambra.

The Nasride Palace terdiri dari beberapa bagian yang salah satunya bernama The Palace of the Lions. Melihat namanya yang terkesan sangar, tak disangka jika bagian ini  merupakan tempat khusus bagi para Harem, istri-istri Sultan. The Nasride Palace adalah pusat keindahan Alhambra. Bangunan seluruhnya dipenuhi dengan berbagai ornamen dan elemen dekorasi. Dinding-dinding dipernuhi oleh keramik-keramik yang sangat cantik. Banyak pula penggunaan mocarabe, semacam ornamen berbentuk stalaktit yang menjadi ciri arstitektur Islam pada abad ke-12. Kemudian yang paling impresif adalah banyaknya kaligrafi Arab yang menghiasi dinding-dinding di istana ini. Kaligrafi yang digunakan adalah kaligrafi klasik terutama tulisan kursif dan kufik. Ingin tahu apa yang banyak tertulis di kaligrafi tersebut? La ghaliba illa Allah (‘’Only Allah is Victorious’’). Sangat mengesankan.

Para wisatawan yang mengunjungi Alhambra dijamin akan berdecak kagum.  Semakin ditelusuri, akan semakin menambah  kekaguman dengan arsitektur Nasrid dan seni Islam. Imajinasi pun terkembang,  betapa majunya peradaban Islam di Spanyol saat itu. Nah, jika ingin sensasi dan nuansa yang lain, wisatawan pun dapat menikmati istana Alhambra di malam hari yang konon sangat indah.

 Pengunjung Granada datang dari berbagai kalangan, tidak hanya kaum Muslim saja. Ya, semuanya tentu ingin melihat langsung bukti dari sejarah yang melegenda. Sebagai UNESCO World Heritage Site, Alhambra memang menjadi tujuan wajib jika ingin menjelajah Spanyol.

Bagi wisatawan yang ingin mengunjungi Alhambra, Granada bisa ditempuh menggunakan kereta dari kota-kota besar seperti Barcelona atau Madrid. Biasanya, Granada dengan Alhambra-nya menjadi satu paket kunjungan dengan Cordoba. Ya, kedua kota yang menjadi tujuan wisata  sejarah Islam di Spanyol ini memang berdekatan. Selain dengan kereta, Granada-Cordoba juga dihubungkan dengan bus. Setelah mengagumi Alhambra, wisatawan juga patut berkeliling kota Granada. Nuansa kota yang berbeda membuat wisatawan akan menemukan sisi lain Spanyol. Bagi umat Muslim, jangan khawatir masalah makanan karena di Granada tersebar berbagai kedai makanan halal dengan harga yang bersahabat. Selamat berwisata!




Sabtu, 17 Mei 2014

Menghemat Makan Saat Traveling di Luar Negeri

Sewaktu saya tinggal di Prancis, saya sering sekali traveling entah keliling Prancis atau ke negara-negara lain di Eropa. Sebagai mahasiswa yang beassiswanya pas-pas an, mau gak mau saya harus ngirit kalau sedang traveling jika tak mau bangkrut pas pulang. Nah, salah satu yang bisa diirit adalah makan. Kali ini, saya ingin menceritakan cara-cara yang  saya lakukan untuk berhemat dalam hal makan ketika traveling di Eropa. Biar ngirit, tetapi masih bisa kenyang, bertenaga, dan gak sampai kelaparan kok. Hehe.

1.  Fastfood setiap hari
Ketika Spain Trip bareng kedua teman, saya selama 3 harian makan KFC untuk makan siang dan malam. Kami ingin makan yang lumayan murah tetapi bisa kenyang. Caranya, kami beli paket ayam bucket yang sudah plus kentang dan minum. Menu seharga 12 Euro ini bisa dinikmati bertiga. Biar ngirit dan karena memang lumayan banyak juga, kami sisakan dan bungkus untuk makan malam. Kadang ditambah dengan membeli chicken fillet seharga 1 euroan saja. Lumayan loh, siang malam kenyang dengan harga yang lumayan murah. Bisa diaplikasikan ke menu-menu fastfood yang lain jika ada. Misalnya di Eropa banyak tuh kedai kebab. Satu menu kebab ini kan lumayan besar juga untuk satu orang, jadinya bisa tuh sepiring berdua. Kebanyakan makan fastfood saat traveling memang harus perbaikan gizi sih pulang-pulang. Hehe


2. Memaksimalkan sarapan sepuasnya di hotel
Saya pernah mengikuti trip ke Eropa Timur dengan travel agent khusus mahasiswa, yang terbilang lumayan murah. Paket trip ini termasuk menginap di hotel dan sarapan gratis di hotel tersebut. Sarapan yang berkonsep prasmanan dan sepuasnya itu tentu saja saya dan beberapa teman saya maksimalkan. Maksudnya dimaksimalkan adalah ketika sarapan kami juga membungkus beberapa telur rebus, roti-roti kecil, mentega, selai dengan tisu yang tersedia. Maksudnya bisa buat makan siang atau ngemil di tengah jalan. Jika Anda memakai paket trip yang seperti ini, bisa dicoba. Tetapi Jangan keterlaluan juga sih bungkusnya, hehe. Seperlunya saja kalau tidak mau diliatin orang :p

3. Beli makanan di supermarket atau minimarket
Ketika traveling, saya seringnya membeli makanan di supermarket atau minimarket yag lebih efektif dan efisien. Lengkap, murah, dan pilihannya beragam. Ada beragam makanan siap makan juga. Sekalian buat seharian atau besoknya. Selain itu, di makanan disini kan semuanya ditulis komposisinya, jadi bisa dicek kehalalannya. Karena seringya traveling bareng teman, saya biasanya membeli yang versi besar seperti roti tawar versi besar  atau air minum dan susu dalam botol besar. Membeli versi besar kalau buat bareng-bareng lebih irit karena harganya tidak jauh beda dengan versi individual. Nah, kalau di penginapan ada dapur atau kalau saya bawa magic com kecil yang bisa dibawa-bawa, biasanya saya masak. Tinggal beli bahan-bahan murah seperti pasta, beras, dan telur. Saya sih jarang banget beli makan dan minum di kafe atau restoran. Mahal. Hehe. Satu roti di kafe bisa dapat sebungkus besar di supermarket. Rasanya, enak kok, beneran. Kadang, di minimarket ada microwave yang bisa digunakan. Jadi, tinggal beli sandwich atau makanan pak-pak an, hangatkan deh di microwave. Bisa dimakan di bangku-bangku pinggir jalan atau taman.Makannya, begitu sampai tempat tujuan traveling saya pasti nyari minimarket terdekat buat ngisi perbekalan. :)

foto: franchisealimentaire.com

Nah, setiap orang pasti punya cara sendiri dalam menghemat saat traveling. Ada teman saya yang memang tidak bisa makan asal-asalan, mesti yang tertata dan terjamin enak. Nah, untungnya saya termasuk yang gak rewel dalam hal makanan jadi bisa diprogram untuk penghematan. 






Selasa, 13 Mei 2014

Mezquita dalam Foto

Anda pernah membaca novel karya Hanum Rais yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa? Pernah menonton filmnya? Pasti Anda sudah mengenal Mezquita, Masjid Agung Cordoba yang sekarang sudah menjadi Katedral. Mezquita ini menjadi saksi kejayaan Islam di Bumi Spanyol pada zaman dulu. 

Nah, melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang cerita seru saya di Mezquita, kali saya ingin mengajak Anda "melihat" Mezquita yang sekarang sudah menjadi Katedral. Melalui foto-foto saya di bawah ini, silakan menelusuri sudut-sudut Mezquita yah :).

Tembok keliling Mezquita beserta menaranya

Ornamen-ornamen katedral menghiasi tembok

Teras Mezquita

Arsitektur bagian dalam Mezquita

Mihrab Mezquita yang sudah tidak difungsikan

Katedral di tengah Mezquita
Indahnya ukiran kaligrafi di Mihrab

Jumat, 09 Mei 2014

Ketika Adzan Berkumandang di Cordoba

Suasana malam di sekitar Mezquita Cathedral, Cordoba

Ini adalah cerita yang saya alami sendiri sewaktu Spain Trip musim panas 2013 lalu. Cordoba, memang menjadi tujuan saya. Nilai historisnya sebagai pusat peradaban Islam di Spanyol menarik perhatian saya dan kedua teman saya untuk mengunjunginya sendiri. Ikon Cordoba, Mezquita Cathedrale dulunya adalah Masjid Besar Cordoba sewaktu Islam berkuasa di Spanyol. Namun , sekarang sudah menjadi Katedral. 

Nah, malam-malam, ceritanya sepulang dari Granada, kami kelaparan.  Kami bertiga keliling-keliling sekitaran Mezquita sambil nyari makan. Namun karena memang sudah malam, sudah jarang tempat makan yang masih buka. Untungnya ada semacam kafe yang masih jual makanan. Kami pun kemudian makan ngemper di samping Mezquita. Sambil makan, sebenarnya saya agak membayangkan kalau zaman dulu, sewaktu Mezquita masih merupakan masjid, pastilah malam-malam begini ramai orang shalat Isya berjamaah, dzikir, tadarus Al-Qur'an, dan lain-lain. Tidak seperti malam itu, sepi. Nah ketika sedang asyik makan malam seadanya itu, tiba-tiba teman saya nyeletuk.

"Eh ada suara adzan. Lu denger gak?"

"Bukan kali. Masa iya ada?" (sebenarnya saya juga agak merasa dengar sayup-sayup gitu sih)

"Eh bentar. Eh iya beneran ada. Bukan halusinasi."

Ternyata setelah didengarkan memang ada adzan. Adzan Isya. Suaranya tidak jelas banget sih, tetapi terdengar. Sontak, teman saya langsung meninggalkan makanannya, keliling-keliling nyari asal suara adzan. Kayanya gak mungkin dari Mezquita deh. Kemudian dia langsung bertanya kepada mas-mas penjaga bar yang ada di deket Mezquita. Mas-mas bar gak tahu dari mana. Haha. Lucu juga dia bertanya kepada mas-mas bar. Kemudian ada seorang bapak yang memberi tahu kami bahwa adzan tersebut berasal dari Islamic Center yang ada tidak terlalu jauh dari Mezquita. Owalaaaah. Mereka pun memperhatikan tingkah kami yang tiba-tiba heboh sendiri dengar suara adzan. Ya iyalah, selama tinggal di Eropa baru kali ini kami dengar adzan yang emang lumayan agak jelas. Terharu loh.

Rindu pun kembali muncul saat itu. 

Mana Reservasinya? (Tragedi Eurail). Hiks..

Petugas pengecekan di dalam kereta adalah sosok yang diperlukan untuk memastikan semua penumpang memiliki tiket yang benar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sosok ini menjadi "horor" bagi mereka yang memang tidak mematuhi peraturan.

Saya adalah orang yang taat peraturan dan selalu memastikan semua yang saya lakukan sesuai, apalagi kalau akan naik kereta api. Tak pernah ada dalam bayangan saya akan berurusan dengan petugas kereta api apalagi di luar negeri. Ribet pastinya. Namun bayangan saya menjadi penumpang yang baik luntur ketika saya dan dua orang teman saya melakukan Spain Trip dengan kereta api. Begini ceritanya.

Saya dan dua orang teman saya adalah tiga mahasiswa Indonesia di Prancis yang ingin backpacking dengan budget seadanya menjelajah Spanyol. Untuk alasan efisiensi dan kemudahan, kami putuskan membeli Eurail Pass France-Spain. Bayar satu tiket diawal. Hanya dengan satu pass ini, kita tidak usah lagi membeli tiket kereta. Tinggal naik saja. Namun Eurail Pass ini tentunya mempunyai syarat dan ketentuan yang tertulis rapi di belakang pass kami. Ya, memang tidak usah bayar lagi tinggal naik, tetapi itu untuk kereta lokal, bukan high speed train. Untuk high speed train, harus reservasi dan ada biaya yang besarnya tergantung kebijakan perkeretaapian setiap negara. Inilah yang tidak kami perhatikan dan baca. Agaknya memang sudah ditakdirkan. Huhu. 

Dari Paris, enak-enak saja kami naik high speed train Prancis, TGV menuju Toulouse (Prancis Selatan) Ya, saya memilih jalur melalui kota ini dulu karena saya ada urusan ngasih titipan ke teman di stasiun. Padahal saat itu kereta sudah penuh. Kami berpikir, ah, gak papa naik dulu, kan kita udah punya tiket ini. Duduk aja dulu di deket pintu. Duh, pemikiran dari mana ini?? Kami pun duduk-duduk manis di bangku kecil dekat tempat menaruh tas dan pintu. Persis banget kaya di Indonesia ini, penumpang yang gak punya tiket. Kemudian, petugas pengecekan datang, dengan seragam khasnya, alat pengecekan, dan alat semacam kalkulator. Jeng..jeng. Dia menanyakan tiket kami. Kami menunjukkan Eurail Pass. Dia bertanya dimana bukti reservasinya. Kami bertanya memangya harus reservasi. Dia membalik Eurail Pass kami dan menunjukan satu kalimat yang membuat kami cengok. Mungkin dia berkata dalam hati, kalian ceroboh sekali tidak membaca ini.  Lalu dengan kalkulatornya, dia menghitung besarnya biaya yang harus kami bayar karena melakukan reservasi di dalam kereta, bukan di loket. Berapa puluh Euro melayang sudah....

Kami harus berganti kereta dengan jenis Intercité. Wah, pasti ini bukan high speed train. Langsung masuk saja. Seperti biasa, dia datang dengan seragam khasnya dan seperangkat alat pengecekan. Gayanya sok asik, berjalan girang, dan menyapa penumpang satu per satu. Tapi kok bagi kami auranya gak enak yah. Makin dekat, auranya makin gak enak. Sudah jelas gak enak ketika dia bilang, ah, mana reservasinya? Cengok untuk kedua kali. Kami minta penjelasan. Dia, dengan gaya cerianya mau menjelaskan kami tentang ketentuan Eurail. Kemudian setelah menerima puluhan Euro dari kami bertiga, masih dengan gaya girangnya, bahkan lebih girang lagi berkata "Selamat malam mingguan di Barcelona yah!". Hiks, dia tidak tahu akan makan apa kami disana. 

Selesai urusan di Toulouse yang sebenarnya berlangsung di peron dan cuma beberapa menit, saya naik kereta lagi kali ini untuk menuju wilayah perbatasan. Kali ini, high speed train TGV sebelum nanti berganti naik kereta Spanyol. Berkaca pada pengalaman dan tidak mau kehilangan Euro lagi, kami bertekad sebelum naik kami reservasi dulu di loket. Namun sungguh takdir tak mendukung. Loket penuh, kereta berangkat sebentar lagi. Kami disuruh naik secepatnya. Kali ini sudah pasrah. Pasrah banget. 

Kereta berjalan melewati tepi laut Mediterania. Indah sekali. Tetapi tiba-tiba jadi buram ketika dia datang. Dengan seragam khasnya dan seperangkat alat pengecekan. Kali ini kami tidak cengok. Kami siap dieksekusi. Kami pasrah, mengeluarkan dompet dan langsung memberinya puluhan Euro lagi........

Saking eneknya berurusan sama petugas pengecekan, kami bertiga tidak mau menghitung berapa biaya yang telah kami keluarkan untuk membayar denda. Terserah saja, bukan rejekinya. Memang salah kami juga.  Hehe. Usut punya usut, ternyata biaya reservasi untuk high speed train Prancis memang terkenal mahal, apalagi kalau onboard. Panteslah kami bangkrut. Untunglah di Spanyol tidak mahal, hanya 10 Euro saja.

Bagi yang ingin memakai Eurail, perhatikan benar masalah reservasi ini yah kalau tidak mau berurusan sama petugas pengecekan. Hehe. Ada kok beberapa negara yang tidak memberlakukan reservasi kalau tidak salah. Namun ada bisa menyiasati dengan menaiki kereta lokal supaya benar-benar gratis, meski durasi lebih lama.  Tetapi enak-enak saja kok bagi saya yang akhirnya pulang ke Prancis dengan kereta lokal dari Spanyol karena sudah tidak punya uang lagi. Haha




Indonesia yah?? :)

Ehem, kali ini saya tidak bercerita mengenai tempat-tempat seru yang saya kunjungi. Namun cerita saya kali ini juga seru dan sedikit gokil. Hehe. Suatu kejadian yang sering kali saya (dan mungkin traveler Indonesia lain) alami ketika sedang jalan-jalan ke luar negeri. Kejadian yang dimaksud adalah ketika tiba-tiba di suatu tempat di luar negeri kita berpapasan atau bertemu dengan sesama orang Indonesia pula. 

Sebenarnya tidak ada yang aneh dan biasa aja bertemu dengan sesama orang Indonesia ketika sedang traveling di luar negeri. Biasa ajaaa. Tapi yang unik itu adalah proses ketika momen itu terjadi dan berjalan yang gimana yaaah. Haha. Biar saya gak susah menjelaskan, saya berikan ilustrasi dari pengalaman saya sendiri.

Suatu sore di tengah kota Budapest
"Saya dan teman saya sedang berjalan kaki pulang dari Maket Hall menuju hotel. Di perjalanan, terlihat dua orang wanita muda berusia kira-kira sama seperi saya. Mereka berjalan berlawanan arah dengan kami. Sebenarnya sejak dari kejauhan, mereka sudah agak bisik-bisik sambil sesekali memperhatikan kami. Saya pun sebenarnya sudah punya pikiran sendiri, tetapi takut salah juga. Makin dekat, makin terjadi kontak mata. Tiba-tiba ketika sudah benar-benar dekat, salah seorang diantara mereka menyapa dengan senyum ceria meski agak sedikit ragu-ragu : Maaf, Indonesia yah? . Saya pun menjawab: Iya, Indonesia juga kan? 
Setelah itu, kemudian terjadi percakapan dari kenalan, basa-basi, dan lain-lain.

Nah, ngerti kan maksud saya? Hehe. Apalagi di tempat-tempat traveling yang gak terlalu tenar banget. Seperti di Angers,  kota tempat tinggal saya di Prancis dulu, dimana jarang nemu orang Indonesia. Pasti deh kalo lagi jalan tiba-tiba melihat sesosok muka-muka Melayu dengan gaya yang kira-kira orang Indonesia lah, langsung deh saling sapa tanpa basa ragu-ragu lagi. Gak pakai pemanasan langsung samber, "Indonesia yah?". Sampai-sampai dulu saya dan teman-teman menjadikan "Indonesia yah?" semacam jargon.

Entahlah, mungkin memang jiwa kesatuan kita sebagai satu Bangsa Indonesia memang kuat. Tak usahlah bertegur sapa, minimal senyum atau kontak mata pasti sering kita lakukan kan? Hehe. Saya sendiri sih senang bisa bertemu sesama orang Indonesia kalau lagi jalan-jalan di luar negeri. Seru juga merasakan sensasi bertanya-tanya sendiri, ragu, tapi akhirnya menyapa juga. Seringnya, pihak yang lain juga merasakan hal yang sama seperti kita.  Meski kita tidak saling kenal sebelumnya, tetapi pas ngrobrol nyambung aja. Dan dari sini sih saya mendapat wawasan lah sedikit-sedikit. Kan nambah kenalan jugaaa. Awkward moment yang jadi happy ending lah yaaah..:)

Minggu, 27 April 2014

Disneyland Paris, Petualangan Sehari di Negeri Fantasi


Paris, tak hanya Eiffel, Louvre, Notre-Dame, dan monumen-monumen klasik lainnya. Paris juga punya negeri fantasi abad modern ini, Disneyland! Simak petualangan sehari saya di taman hiburan yang disebut juga Eurodisney ini yah! :)

Saya mengunjungi Disneyland Paris sekitar setahun yang lalu di akhir musim dingin. Sebenarnya agak tak terencana sih, karena tiba-tiba saja saya ada rezeki sehingga bisa ikut teman-teman saya dari Belanda yang mau Paris Trip, yang tentu saja salah satu tujuannya Disneyland Paris. Buru-buru deh reservasi tiket TGVonline Angers-Paris PP. Hehe

Saya sendiri sangat antusias dengan isi Disneyland ini. Beberapa minggu sebelumnya, saya mendapat kuliah umum di kampus dari seorang perwakilan Disneyland USA. Beliau ini menceritakan kisah sukses Disneyland dan memberikan paparan menarik mengapa taman hiburan ini begitu menarik perhatian massa. Kemudian, saya juga ada mata kuliah tentang manajemen taman hiburan yang sering sekali membahas Disneyland, khususnya Disneyland Paris (maklum saya mahasiswa pariwisata). Anyway, berdasarkan kuliah saya ini, Disneyland Paris ternyata adalah 'tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Paris' loh! Mengalahkan Menara Eiffel, Louvre, dan lain-lain! Nah, saya jadi penasaran sama Disneyland, dan mumpung di Prancis juga ada satu. Hehe. Gak papa lah meski lagi cekak juga dananya. 

Disneyland Paris sendiri terletak di daerah pinggiran Paris bernama Marne-la-Vallée. Nah, karena berada di daerah pinggiran inilah, saya harus menggunakan kereta RER, yaitu kereta yang menghubungkan Paris dengan dareah-daerah di pinggirannya. Kalau Métro kan hanya di dalam kota Parisnya saja. So, untuk menuju ke Marne-la-Vallée, saya harus naik RER A dengan harga tiket sekitar 7,5 euro. Perjalanan dari Paris ke Marne-la-Vallée ditempuh sekitar 40 menit. Dan voilà! akhirnya sampai di Stasiun Marne-la-Vallée atau disebut juga Stasiun Disneyland dengan papan dan simbol Disneyland. Wuih keren! Keluar stasiun, langsung menemukan pintu gerbang masuk Disneyland! Sistemnya bagus yah, terkonfigurasi antara transportasi dan tempat wisatanya. Ceritanya sih, kereta yang menuju Marne-la-Vallée ini bak kereta dalam dunia dongeng yang membawa kita ke dunia fantasi yang menyenangkan.

Stasiun Marne-la-Vallée yang langsung terhubung dengan Disneyland. Lihat, bahkan arsitektur stasiunnya pun sudah bernuansa fantasi ala Disney. Sumber foto: www.disneylandparis-generations.com


Oleh karena saya datang pas hari libur, tidak heran jika antrian lumayan panjang terjadi untuk masuk ke Disneyland. Sampai di loket, saya membeli tiket masuk sekitar 50 euro yang berlaku untuk 2 taman, yaitu Disneyland dan Walt Disney Studios. Harga yang saya dapat adalah harga mahasiswa (berlaku juga bagi pemegang kartu ISIC). Untuk umum, harganya lebih mahal. Untunglah, masih mahasiwa :p.
Gerbang utama Disneyland Paris. Tuh, membludak kan.

Disneyland Paris tampak dari luar

Tiket masuk Disneyland. Yippiee!

Saya tertarik dengan kostum semua petugas di Disneyland ini. Ya, semuanya dari mba-mba tiket, mas-mas security, dan lain-lain memakai kostum ala Disney. Jadi, memang benar, tema dan sensasi Disneyland itu dibangun dari hal-hal yang kecil agar pengunjung benar-benar merasakannya. Oups, saya lupa saya membawa ransel yang cukup berat karena malamnya saya harus pulang ke Angers, Untungnya, ada tempat penitipan barang dengan hanya membayar beberapa euro saja, daripada pegel?

Saya pertama masuk untuk menjajal Disneyland Park. Disneyland Park Paris terdiri dari beberap taman yang masing-masing memiliki tema, sama seperti Disneyland di negara-negara lain. Ada Mainstreet USA yang bernuansa mini Amerika di abad 20 dengan berbagai macam toko-toko dan restoran, Adventureland yang diperuntukkan bagi wahana-wahana petualangan, Frontierland yang bernuansa western, Fantasyland yang akan membawa kita ke dunia dongeng ala Disney, dan Discoveryland yang bernuansa science fiction. Tidak ketinggalan pula, kastil Sleeping Beauty yang menjadi maskot Disneyland.

Dikarenakan jumlah pengunjung yang banyak, saya tak bisa mencoba semua wahana. Antriannya itu loh. Hehe. Saya mencoba wahana kereta tambang di Frontierland yang membawa saya naik turun gunung dengan kecepatan yang tinggi. Woaaah. Lumayan sekali untuk memacu adrenalin. Pemandangan yang disuguhkan pun sangat menarik. Keretanya pun benar-benar seperti kereta tambang. Tetapi lagi-lagi, untuk mencoba wahana ini saja saya harus antri panjang sekali.  Kemudian saya beralih mencoba wahana sejenis rumah hantu. Haha. Saya sudah ketakutan sekali sebelum masuk karena begitu seram kelihatannya dari luar. Ternyata, di dalam saya justru terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Hantu-hantu yang ditampilkan diciptakan dengan teknologi laser yang benar-benar seperti asli. Seram, bisa menghilang separuhnya, tiba-tiba muncul, dan justru saya terkagum-kagum karena teknologi ini. Hehe.

Kemudian saya juga menaiki wahana kapal bajak laut yang benar-benar dibuat seperti aslinya dan mengajak saya berkeliling danau di Adventureland. Sebenarnya, tidak banyak wahana yang saya coba dan naiki karena memang saya sudah malas dengan antriannya. Apalagi untuk masuk di Fantasyland, bertemu para princess, Mickey Mouse, dan lain-lain. Huhu. Saya lebih tertarik mengamati dan menikmati pemandangan dan atraksi-atraksi yang ada. Sesekali menaiki kereta yang membawa saya mengelilingi Disneyland Park. Bahkan,dibuat loh stasiun-stasiun permberhentian untuk kereta ini. Wah, benar-benar seperti sebuah dunia tersendiri yah Disneyland ini.

Kafe-kafe berjajar di Mainstreet

Mainstreet

Masuk ke Frontierland!

Nuansa western di Frontierland

Naik kapal keliling danau

Wahana kereta tambang di Frontierland

Rumah hantu loh ini



Kereta ini siap membawa pengunjung keliling Disneyland

Yang selalu dinanti kehadirannya :)

Kereta ini akan membawa kita ke dunia Snow White


Oleh karena teman-teman saya keasikan melihat-lihat barang-barang lucu ala Disney di toko-toko souvenir, kami kehabisan waktu untuk ke Walt Disney Studio. Huhu. Ternyata tutup lebih awal dari Disneyland Park. Seharusnya kami masuk ke Walt Disney Studio dulu, baru ke Disneyland Park. Oh iya, ada parade dengan Mickey Mouse sebagai bintangya juga di Disneyland Park. Kehadiran Mickey seperti seorang raja yang begitu dinantikan rakyatnya (baca: para pengunjung) :p.

Kunjungan saya ke Disneyland Paris secara umum sangat menarik dan benar-benar membawa saya ke sebuah dunia fantasi. Coba saja suhu waktu itu agak lebih hangat dan pengunjungnya tidak terlalu membludak. Saya belum pernah ke Disneyland di negara lain, jadi saya tidak bisa membandingkan. Disneyland Paris sendiri tema dan nuansanya memang disesuaikan dengan negara Prancis jadi memang berbeda dari Disneyland yang lain. Wahana-wahana yang disuguhkan pun banyak dan menarik. Nah, oleh karena Disneyland Paris adalah satu-satunya di Eropa, maka pengunjungnya pun datang dari seluruh penjuru Eropa. Jadi, mesti ingat waktu jika ingin mencoba semua wahananya yah! Tertarik untuk mengunjungi dunia fantasi di tengah keromantisan dan nuansa klasik Kota Paris? See ya!






Minggu, 20 April 2014

Angers: When the Sun Shines in Winter :)

Pernahkah merasakan musim dingin dengan matahari yang bersinar cerah? Saya pernah :)


 Ya, suhu memang dingin sekali, tetapi langit begitu cerah seolah-olah ini musim semi atau menjelang musim panas. Saking terpesona dan senang karena jarang-jarang lihat matahari di musim dingin, saya mengambil beberapa foto di Angers, kota tempat tinggal saya sewaktu kuliah di Prancis. Enjoy yah!

Bianglala perayaan Pasar Natal 


Jejeran bangunan di pinggir jalan di pusat kota

Dari atas apartemen teman

Jardin du Mail, taman kota di samping kos an saya :). Seperti di negeri dongeng yah?