Label

Selasa, 13 Mei 2014

Mezquita dalam Foto

Anda pernah membaca novel karya Hanum Rais yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa? Pernah menonton filmnya? Pasti Anda sudah mengenal Mezquita, Masjid Agung Cordoba yang sekarang sudah menjadi Katedral. Mezquita ini menjadi saksi kejayaan Islam di Bumi Spanyol pada zaman dulu. 

Nah, melanjutkan postingan saya sebelumnya tentang cerita seru saya di Mezquita, kali saya ingin mengajak Anda "melihat" Mezquita yang sekarang sudah menjadi Katedral. Melalui foto-foto saya di bawah ini, silakan menelusuri sudut-sudut Mezquita yah :).

Tembok keliling Mezquita beserta menaranya

Ornamen-ornamen katedral menghiasi tembok

Teras Mezquita

Arsitektur bagian dalam Mezquita

Mihrab Mezquita yang sudah tidak difungsikan

Katedral di tengah Mezquita
Indahnya ukiran kaligrafi di Mihrab

Jumat, 09 Mei 2014

Ketika Adzan Berkumandang di Cordoba

Suasana malam di sekitar Mezquita Cathedral, Cordoba

Ini adalah cerita yang saya alami sendiri sewaktu Spain Trip musim panas 2013 lalu. Cordoba, memang menjadi tujuan saya. Nilai historisnya sebagai pusat peradaban Islam di Spanyol menarik perhatian saya dan kedua teman saya untuk mengunjunginya sendiri. Ikon Cordoba, Mezquita Cathedrale dulunya adalah Masjid Besar Cordoba sewaktu Islam berkuasa di Spanyol. Namun , sekarang sudah menjadi Katedral. 

Nah, malam-malam, ceritanya sepulang dari Granada, kami kelaparan.  Kami bertiga keliling-keliling sekitaran Mezquita sambil nyari makan. Namun karena memang sudah malam, sudah jarang tempat makan yang masih buka. Untungnya ada semacam kafe yang masih jual makanan. Kami pun kemudian makan ngemper di samping Mezquita. Sambil makan, sebenarnya saya agak membayangkan kalau zaman dulu, sewaktu Mezquita masih merupakan masjid, pastilah malam-malam begini ramai orang shalat Isya berjamaah, dzikir, tadarus Al-Qur'an, dan lain-lain. Tidak seperti malam itu, sepi. Nah ketika sedang asyik makan malam seadanya itu, tiba-tiba teman saya nyeletuk.

"Eh ada suara adzan. Lu denger gak?"

"Bukan kali. Masa iya ada?" (sebenarnya saya juga agak merasa dengar sayup-sayup gitu sih)

"Eh bentar. Eh iya beneran ada. Bukan halusinasi."

Ternyata setelah didengarkan memang ada adzan. Adzan Isya. Suaranya tidak jelas banget sih, tetapi terdengar. Sontak, teman saya langsung meninggalkan makanannya, keliling-keliling nyari asal suara adzan. Kayanya gak mungkin dari Mezquita deh. Kemudian dia langsung bertanya kepada mas-mas penjaga bar yang ada di deket Mezquita. Mas-mas bar gak tahu dari mana. Haha. Lucu juga dia bertanya kepada mas-mas bar. Kemudian ada seorang bapak yang memberi tahu kami bahwa adzan tersebut berasal dari Islamic Center yang ada tidak terlalu jauh dari Mezquita. Owalaaaah. Mereka pun memperhatikan tingkah kami yang tiba-tiba heboh sendiri dengar suara adzan. Ya iyalah, selama tinggal di Eropa baru kali ini kami dengar adzan yang emang lumayan agak jelas. Terharu loh.

Rindu pun kembali muncul saat itu. 

Mana Reservasinya? (Tragedi Eurail). Hiks..

Petugas pengecekan di dalam kereta adalah sosok yang diperlukan untuk memastikan semua penumpang memiliki tiket yang benar agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sosok ini menjadi "horor" bagi mereka yang memang tidak mematuhi peraturan.

Saya adalah orang yang taat peraturan dan selalu memastikan semua yang saya lakukan sesuai, apalagi kalau akan naik kereta api. Tak pernah ada dalam bayangan saya akan berurusan dengan petugas kereta api apalagi di luar negeri. Ribet pastinya. Namun bayangan saya menjadi penumpang yang baik luntur ketika saya dan dua orang teman saya melakukan Spain Trip dengan kereta api. Begini ceritanya.

Saya dan dua orang teman saya adalah tiga mahasiswa Indonesia di Prancis yang ingin backpacking dengan budget seadanya menjelajah Spanyol. Untuk alasan efisiensi dan kemudahan, kami putuskan membeli Eurail Pass France-Spain. Bayar satu tiket diawal. Hanya dengan satu pass ini, kita tidak usah lagi membeli tiket kereta. Tinggal naik saja. Namun Eurail Pass ini tentunya mempunyai syarat dan ketentuan yang tertulis rapi di belakang pass kami. Ya, memang tidak usah bayar lagi tinggal naik, tetapi itu untuk kereta lokal, bukan high speed train. Untuk high speed train, harus reservasi dan ada biaya yang besarnya tergantung kebijakan perkeretaapian setiap negara. Inilah yang tidak kami perhatikan dan baca. Agaknya memang sudah ditakdirkan. Huhu. 

Dari Paris, enak-enak saja kami naik high speed train Prancis, TGV menuju Toulouse (Prancis Selatan) Ya, saya memilih jalur melalui kota ini dulu karena saya ada urusan ngasih titipan ke teman di stasiun. Padahal saat itu kereta sudah penuh. Kami berpikir, ah, gak papa naik dulu, kan kita udah punya tiket ini. Duduk aja dulu di deket pintu. Duh, pemikiran dari mana ini?? Kami pun duduk-duduk manis di bangku kecil dekat tempat menaruh tas dan pintu. Persis banget kaya di Indonesia ini, penumpang yang gak punya tiket. Kemudian, petugas pengecekan datang, dengan seragam khasnya, alat pengecekan, dan alat semacam kalkulator. Jeng..jeng. Dia menanyakan tiket kami. Kami menunjukkan Eurail Pass. Dia bertanya dimana bukti reservasinya. Kami bertanya memangya harus reservasi. Dia membalik Eurail Pass kami dan menunjukan satu kalimat yang membuat kami cengok. Mungkin dia berkata dalam hati, kalian ceroboh sekali tidak membaca ini.  Lalu dengan kalkulatornya, dia menghitung besarnya biaya yang harus kami bayar karena melakukan reservasi di dalam kereta, bukan di loket. Berapa puluh Euro melayang sudah....

Kami harus berganti kereta dengan jenis Intercité. Wah, pasti ini bukan high speed train. Langsung masuk saja. Seperti biasa, dia datang dengan seragam khasnya dan seperangkat alat pengecekan. Gayanya sok asik, berjalan girang, dan menyapa penumpang satu per satu. Tapi kok bagi kami auranya gak enak yah. Makin dekat, auranya makin gak enak. Sudah jelas gak enak ketika dia bilang, ah, mana reservasinya? Cengok untuk kedua kali. Kami minta penjelasan. Dia, dengan gaya cerianya mau menjelaskan kami tentang ketentuan Eurail. Kemudian setelah menerima puluhan Euro dari kami bertiga, masih dengan gaya girangnya, bahkan lebih girang lagi berkata "Selamat malam mingguan di Barcelona yah!". Hiks, dia tidak tahu akan makan apa kami disana. 

Selesai urusan di Toulouse yang sebenarnya berlangsung di peron dan cuma beberapa menit, saya naik kereta lagi kali ini untuk menuju wilayah perbatasan. Kali ini, high speed train TGV sebelum nanti berganti naik kereta Spanyol. Berkaca pada pengalaman dan tidak mau kehilangan Euro lagi, kami bertekad sebelum naik kami reservasi dulu di loket. Namun sungguh takdir tak mendukung. Loket penuh, kereta berangkat sebentar lagi. Kami disuruh naik secepatnya. Kali ini sudah pasrah. Pasrah banget. 

Kereta berjalan melewati tepi laut Mediterania. Indah sekali. Tetapi tiba-tiba jadi buram ketika dia datang. Dengan seragam khasnya dan seperangkat alat pengecekan. Kali ini kami tidak cengok. Kami siap dieksekusi. Kami pasrah, mengeluarkan dompet dan langsung memberinya puluhan Euro lagi........

Saking eneknya berurusan sama petugas pengecekan, kami bertiga tidak mau menghitung berapa biaya yang telah kami keluarkan untuk membayar denda. Terserah saja, bukan rejekinya. Memang salah kami juga.  Hehe. Usut punya usut, ternyata biaya reservasi untuk high speed train Prancis memang terkenal mahal, apalagi kalau onboard. Panteslah kami bangkrut. Untunglah di Spanyol tidak mahal, hanya 10 Euro saja.

Bagi yang ingin memakai Eurail, perhatikan benar masalah reservasi ini yah kalau tidak mau berurusan sama petugas pengecekan. Hehe. Ada kok beberapa negara yang tidak memberlakukan reservasi kalau tidak salah. Namun ada bisa menyiasati dengan menaiki kereta lokal supaya benar-benar gratis, meski durasi lebih lama.  Tetapi enak-enak saja kok bagi saya yang akhirnya pulang ke Prancis dengan kereta lokal dari Spanyol karena sudah tidak punya uang lagi. Haha




Indonesia yah?? :)

Ehem, kali ini saya tidak bercerita mengenai tempat-tempat seru yang saya kunjungi. Namun cerita saya kali ini juga seru dan sedikit gokil. Hehe. Suatu kejadian yang sering kali saya (dan mungkin traveler Indonesia lain) alami ketika sedang jalan-jalan ke luar negeri. Kejadian yang dimaksud adalah ketika tiba-tiba di suatu tempat di luar negeri kita berpapasan atau bertemu dengan sesama orang Indonesia pula. 

Sebenarnya tidak ada yang aneh dan biasa aja bertemu dengan sesama orang Indonesia ketika sedang traveling di luar negeri. Biasa ajaaa. Tapi yang unik itu adalah proses ketika momen itu terjadi dan berjalan yang gimana yaaah. Haha. Biar saya gak susah menjelaskan, saya berikan ilustrasi dari pengalaman saya sendiri.

Suatu sore di tengah kota Budapest
"Saya dan teman saya sedang berjalan kaki pulang dari Maket Hall menuju hotel. Di perjalanan, terlihat dua orang wanita muda berusia kira-kira sama seperi saya. Mereka berjalan berlawanan arah dengan kami. Sebenarnya sejak dari kejauhan, mereka sudah agak bisik-bisik sambil sesekali memperhatikan kami. Saya pun sebenarnya sudah punya pikiran sendiri, tetapi takut salah juga. Makin dekat, makin terjadi kontak mata. Tiba-tiba ketika sudah benar-benar dekat, salah seorang diantara mereka menyapa dengan senyum ceria meski agak sedikit ragu-ragu : Maaf, Indonesia yah? . Saya pun menjawab: Iya, Indonesia juga kan? 
Setelah itu, kemudian terjadi percakapan dari kenalan, basa-basi, dan lain-lain.

Nah, ngerti kan maksud saya? Hehe. Apalagi di tempat-tempat traveling yang gak terlalu tenar banget. Seperti di Angers,  kota tempat tinggal saya di Prancis dulu, dimana jarang nemu orang Indonesia. Pasti deh kalo lagi jalan tiba-tiba melihat sesosok muka-muka Melayu dengan gaya yang kira-kira orang Indonesia lah, langsung deh saling sapa tanpa basa ragu-ragu lagi. Gak pakai pemanasan langsung samber, "Indonesia yah?". Sampai-sampai dulu saya dan teman-teman menjadikan "Indonesia yah?" semacam jargon.

Entahlah, mungkin memang jiwa kesatuan kita sebagai satu Bangsa Indonesia memang kuat. Tak usahlah bertegur sapa, minimal senyum atau kontak mata pasti sering kita lakukan kan? Hehe. Saya sendiri sih senang bisa bertemu sesama orang Indonesia kalau lagi jalan-jalan di luar negeri. Seru juga merasakan sensasi bertanya-tanya sendiri, ragu, tapi akhirnya menyapa juga. Seringnya, pihak yang lain juga merasakan hal yang sama seperti kita.  Meski kita tidak saling kenal sebelumnya, tetapi pas ngrobrol nyambung aja. Dan dari sini sih saya mendapat wawasan lah sedikit-sedikit. Kan nambah kenalan jugaaa. Awkward moment yang jadi happy ending lah yaaah..:)

Minggu, 27 April 2014

Disneyland Paris, Petualangan Sehari di Negeri Fantasi


Paris, tak hanya Eiffel, Louvre, Notre-Dame, dan monumen-monumen klasik lainnya. Paris juga punya negeri fantasi abad modern ini, Disneyland! Simak petualangan sehari saya di taman hiburan yang disebut juga Eurodisney ini yah! :)

Saya mengunjungi Disneyland Paris sekitar setahun yang lalu di akhir musim dingin. Sebenarnya agak tak terencana sih, karena tiba-tiba saja saya ada rezeki sehingga bisa ikut teman-teman saya dari Belanda yang mau Paris Trip, yang tentu saja salah satu tujuannya Disneyland Paris. Buru-buru deh reservasi tiket TGVonline Angers-Paris PP. Hehe

Saya sendiri sangat antusias dengan isi Disneyland ini. Beberapa minggu sebelumnya, saya mendapat kuliah umum di kampus dari seorang perwakilan Disneyland USA. Beliau ini menceritakan kisah sukses Disneyland dan memberikan paparan menarik mengapa taman hiburan ini begitu menarik perhatian massa. Kemudian, saya juga ada mata kuliah tentang manajemen taman hiburan yang sering sekali membahas Disneyland, khususnya Disneyland Paris (maklum saya mahasiswa pariwisata). Anyway, berdasarkan kuliah saya ini, Disneyland Paris ternyata adalah 'tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Paris' loh! Mengalahkan Menara Eiffel, Louvre, dan lain-lain! Nah, saya jadi penasaran sama Disneyland, dan mumpung di Prancis juga ada satu. Hehe. Gak papa lah meski lagi cekak juga dananya. 

Disneyland Paris sendiri terletak di daerah pinggiran Paris bernama Marne-la-Vallée. Nah, karena berada di daerah pinggiran inilah, saya harus menggunakan kereta RER, yaitu kereta yang menghubungkan Paris dengan dareah-daerah di pinggirannya. Kalau Métro kan hanya di dalam kota Parisnya saja. So, untuk menuju ke Marne-la-Vallée, saya harus naik RER A dengan harga tiket sekitar 7,5 euro. Perjalanan dari Paris ke Marne-la-Vallée ditempuh sekitar 40 menit. Dan voilà! akhirnya sampai di Stasiun Marne-la-Vallée atau disebut juga Stasiun Disneyland dengan papan dan simbol Disneyland. Wuih keren! Keluar stasiun, langsung menemukan pintu gerbang masuk Disneyland! Sistemnya bagus yah, terkonfigurasi antara transportasi dan tempat wisatanya. Ceritanya sih, kereta yang menuju Marne-la-Vallée ini bak kereta dalam dunia dongeng yang membawa kita ke dunia fantasi yang menyenangkan.

Stasiun Marne-la-Vallée yang langsung terhubung dengan Disneyland. Lihat, bahkan arsitektur stasiunnya pun sudah bernuansa fantasi ala Disney. Sumber foto: www.disneylandparis-generations.com


Oleh karena saya datang pas hari libur, tidak heran jika antrian lumayan panjang terjadi untuk masuk ke Disneyland. Sampai di loket, saya membeli tiket masuk sekitar 50 euro yang berlaku untuk 2 taman, yaitu Disneyland dan Walt Disney Studios. Harga yang saya dapat adalah harga mahasiswa (berlaku juga bagi pemegang kartu ISIC). Untuk umum, harganya lebih mahal. Untunglah, masih mahasiwa :p.
Gerbang utama Disneyland Paris. Tuh, membludak kan.

Disneyland Paris tampak dari luar

Tiket masuk Disneyland. Yippiee!

Saya tertarik dengan kostum semua petugas di Disneyland ini. Ya, semuanya dari mba-mba tiket, mas-mas security, dan lain-lain memakai kostum ala Disney. Jadi, memang benar, tema dan sensasi Disneyland itu dibangun dari hal-hal yang kecil agar pengunjung benar-benar merasakannya. Oups, saya lupa saya membawa ransel yang cukup berat karena malamnya saya harus pulang ke Angers, Untungnya, ada tempat penitipan barang dengan hanya membayar beberapa euro saja, daripada pegel?

Saya pertama masuk untuk menjajal Disneyland Park. Disneyland Park Paris terdiri dari beberap taman yang masing-masing memiliki tema, sama seperti Disneyland di negara-negara lain. Ada Mainstreet USA yang bernuansa mini Amerika di abad 20 dengan berbagai macam toko-toko dan restoran, Adventureland yang diperuntukkan bagi wahana-wahana petualangan, Frontierland yang bernuansa western, Fantasyland yang akan membawa kita ke dunia dongeng ala Disney, dan Discoveryland yang bernuansa science fiction. Tidak ketinggalan pula, kastil Sleeping Beauty yang menjadi maskot Disneyland.

Dikarenakan jumlah pengunjung yang banyak, saya tak bisa mencoba semua wahana. Antriannya itu loh. Hehe. Saya mencoba wahana kereta tambang di Frontierland yang membawa saya naik turun gunung dengan kecepatan yang tinggi. Woaaah. Lumayan sekali untuk memacu adrenalin. Pemandangan yang disuguhkan pun sangat menarik. Keretanya pun benar-benar seperti kereta tambang. Tetapi lagi-lagi, untuk mencoba wahana ini saja saya harus antri panjang sekali.  Kemudian saya beralih mencoba wahana sejenis rumah hantu. Haha. Saya sudah ketakutan sekali sebelum masuk karena begitu seram kelihatannya dari luar. Ternyata, di dalam saya justru terkagum-kagum. Bagaimana tidak? Hantu-hantu yang ditampilkan diciptakan dengan teknologi laser yang benar-benar seperti asli. Seram, bisa menghilang separuhnya, tiba-tiba muncul, dan justru saya terkagum-kagum karena teknologi ini. Hehe.

Kemudian saya juga menaiki wahana kapal bajak laut yang benar-benar dibuat seperti aslinya dan mengajak saya berkeliling danau di Adventureland. Sebenarnya, tidak banyak wahana yang saya coba dan naiki karena memang saya sudah malas dengan antriannya. Apalagi untuk masuk di Fantasyland, bertemu para princess, Mickey Mouse, dan lain-lain. Huhu. Saya lebih tertarik mengamati dan menikmati pemandangan dan atraksi-atraksi yang ada. Sesekali menaiki kereta yang membawa saya mengelilingi Disneyland Park. Bahkan,dibuat loh stasiun-stasiun permberhentian untuk kereta ini. Wah, benar-benar seperti sebuah dunia tersendiri yah Disneyland ini.

Kafe-kafe berjajar di Mainstreet

Mainstreet

Masuk ke Frontierland!

Nuansa western di Frontierland

Naik kapal keliling danau

Wahana kereta tambang di Frontierland

Rumah hantu loh ini



Kereta ini siap membawa pengunjung keliling Disneyland

Yang selalu dinanti kehadirannya :)

Kereta ini akan membawa kita ke dunia Snow White


Oleh karena teman-teman saya keasikan melihat-lihat barang-barang lucu ala Disney di toko-toko souvenir, kami kehabisan waktu untuk ke Walt Disney Studio. Huhu. Ternyata tutup lebih awal dari Disneyland Park. Seharusnya kami masuk ke Walt Disney Studio dulu, baru ke Disneyland Park. Oh iya, ada parade dengan Mickey Mouse sebagai bintangya juga di Disneyland Park. Kehadiran Mickey seperti seorang raja yang begitu dinantikan rakyatnya (baca: para pengunjung) :p.

Kunjungan saya ke Disneyland Paris secara umum sangat menarik dan benar-benar membawa saya ke sebuah dunia fantasi. Coba saja suhu waktu itu agak lebih hangat dan pengunjungnya tidak terlalu membludak. Saya belum pernah ke Disneyland di negara lain, jadi saya tidak bisa membandingkan. Disneyland Paris sendiri tema dan nuansanya memang disesuaikan dengan negara Prancis jadi memang berbeda dari Disneyland yang lain. Wahana-wahana yang disuguhkan pun banyak dan menarik. Nah, oleh karena Disneyland Paris adalah satu-satunya di Eropa, maka pengunjungnya pun datang dari seluruh penjuru Eropa. Jadi, mesti ingat waktu jika ingin mencoba semua wahananya yah! Tertarik untuk mengunjungi dunia fantasi di tengah keromantisan dan nuansa klasik Kota Paris? See ya!






Minggu, 20 April 2014

Angers: When the Sun Shines in Winter :)

Pernahkah merasakan musim dingin dengan matahari yang bersinar cerah? Saya pernah :)


 Ya, suhu memang dingin sekali, tetapi langit begitu cerah seolah-olah ini musim semi atau menjelang musim panas. Saking terpesona dan senang karena jarang-jarang lihat matahari di musim dingin, saya mengambil beberapa foto di Angers, kota tempat tinggal saya sewaktu kuliah di Prancis. Enjoy yah!

Bianglala perayaan Pasar Natal 


Jejeran bangunan di pinggir jalan di pusat kota

Dari atas apartemen teman

Jardin du Mail, taman kota di samping kos an saya :). Seperti di negeri dongeng yah?

Sabtu, 19 April 2014

O'Jack Taxi Motor, Solusi Praktis Menjelajah Jogja

Ingin menjelajah Jogja secara praktis,mudah,  murah, dan efisien? Panggil saja O'Jack Taxi Motor!


Hai! Postingan kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya di Yogyakarta. Jadi bulan lalu, saya ada pelatihan selama sebulan di Kota Gudeg. Nah, berhubung saya selama sebulan selalu pindah-pindah tempat tinggal (maklum numpang :p), saya tidak selalu bisa mempergunakan moda transportasi umum seperti Trans Jogja atau yang lain untuk pulang pergi ke tempat pelatihan. Selain itu, rute Trans Jogja yang berputar-putar terkadang makan waktu juga. Kalau sudah begini kan yang paling praktis tinggal panggil abang-abang ojek. Hehe. Eits, tapi tunggu dulu, pendatang seperti saya terkadang tidak tahu tarif tukang ojek yang berlaku untuk suatu rute tertentu. Terkadang juga untuk mendapatkan harga yang pas, kita harus tawar-menawar alot dengan tukang ojek. Kalau lagi kepepet, terpaksa kita yang ngalah dan jadi mahal deh. Huhu. 

Nah, salah seorang teman memberi tahu saya bahwa di Jogja ada yang namanya ojek taxi motor. Wuih apaan tuh? Moda transportasi ini adalah ojek biasa tetapi menggunakan argo seperti taxi. So, ongkos yang harus kita bayar bila menggunakan ojek jenis ini berdasarkan argo yang ada.  Jadi, tidak ada tuh yang namanya tawar-menawar dan penipuan harga. Hehe. Yang paling terkenal dan menjadi pelopor tentu saja O'Jack Taxi Motor. 

O'Jack Taxi Motor memang yang pertama dan terbaik untuk taxi motor. Penasaran, saya mencoba menghubungi Call Center nya untuk memesan ojek dari Stasiun Lempuyangan menuju tempat pelatihan saya. Untuk memesan, kita bisa telpon langsung, sms, bahkan whatsapp atau BBM ke kantor O'Jack Taxi Motor. Nantinya, kantor akan menghubungi tukang ojek yang bersedia menjemput kita. Tak berapa lama kemudian, saya mendapat balasan 'ok'. Asik!

Nah, pas jam janjian saya dengan O'Jack Taxi Motor, ada SMS masuk ke saya bunyinya "Mbak, saya sudah di stasiun Lempuyangan". Ternyata itu dari tukang ojek yang disiapkan menjemput saya. Jangan khawatir tidak mengenali pengendara O'Jack Taxi Motor karena mereka berseragam khsusus serba kuning dengan motor dan helm kuning pula! Sampai di tempat pelatihan, ternyata ongkos yang harus saya bayar sekitar 6 ribu sekian! Jauh lebih murah dari tawaran tukang ojek biasa yang sebesar 15 rb. Ternyata, O'Jack Taxi Motor memberlakukan tarif sebesar Rp 2/meter. Kita pun diberi print argo dan harga yang harus kita bayar. Waaaah. 

Karena murah dan mudah inilah akhirnya saya jadi langganan O'Jack Taxi Motor selama sebulan di Jogja. Hehe. Untuk lebih mudah berkomunikasi dan hemat waktu, kita bisa langsung sms pengendara ojeknya loh. Minta saja nomornya untuk lebih mudah janjian sehinga tak terlalu lama menunggu. Katanya sih, kalaupun dia sedang tidak bisa menjemput, dia akan menghubungi pengendara lain yang kiranya bisa. 

Bagi yang tidak mau dengan pengendara ojek pria, O'Jack Taxi Motor menyediakan pula pengendara wanita loh! Waaaaah. Kabar gembira juga bagi saya. Saya pun kemudian beralih ke pengendara wanita dan menjadi langganannya. Hehe. 

O'Jack Taxi Motor bisa menjemput dimana saja dan mengantar kemana saja di Kota Jogja loh. Tinggal bilang saja lokasi kita dimana.  So, bersiaplah jelajahi semua tempat di Jogja ya karena ada yang siap anatr-jemput nih! See ya!

Kontak O'Jack Taxi Motor:

Telp/SMS : 083844070707 

Tarif: Rp 2/meter atau Rp 2.000/kilometer

sumber gambar: yogyatrip.com